Senin, 27 Februari 2017

Kata Kata

Kata kita, kata darimu.
Kataku puisi itu momentum, perasaan.
Katamu itu hanya kata-kata tersirat,
Kata yang divisualisasikan berbeda.
Kata darimu, itu menakjubkan.
Gila kalau kubilang.
Setangkup dua tangkup, mengeja degup.
Hei, itu lebih dari sekedar ajaib.
Seperti melolong, kosong tapi memenuhiku..
Kata Kata ..
Kita mencoba memaknainya.
Kadang, kita dipersatukan oleh kata-kata.
Kadang, kita dipisahkan oleh kata-kata.
Kataku, itu indah.
Katamu, itu seninya.
Kata-kata itu kita.


-Anonim-
2:26PM
27-02-2017

Kamis, 23 Februari 2017

Lonceng Syahdu dari Tuhan

Bukan sekedar tangkai bergelombang, 
Perumpamaan klasik yang entah sejak kapan terhayati

Seganku bermalam di peluh wajahmu,
Takutmu tertahan dalam tiap senyumanku, 
Nafasku satu-satu meniti rindu

Naifku bersama menjemput janji, 
Sungguh prasangkaku tak cukup picik memilah ini daya atau damba, 
Hingga ia berbuat seenaknya

Bentuk bakti teruji, 
Berbagi tak kenal henti, 
Tinggi rendah terjembatani

Bisikku, 'Maha Besar Tuhan', 
Puji-pujian larut dalam tangisan, 
Panjatan syukur terabadikan, 
Perbedaan pun terabaikan

Dari celah hujan, ku menampik, 
Siasati enggan yang perlahan memekat

Menjelang pagi ku nikmati,
Rintihan mimpi penuh jeruji

Kini ruam-ruam awan meredam, 
Mencari-cari tanya di sulaman malam-malam, 
Aku melintang,
Mengingat kematian

Jasad-jasad kotor tetaplah menumpang, 
Melepas ikhlas, 
Menahan haru

Ku tengok waktu, 
Sujudmu datang mewasiatiku

Beberapa pekan berlalu, 
Lonceng syahdu membangunkanku

Rabu, 04 Januari 2017

Petite Histoire

Ku ingat sejarah kecil-kecil ini dengan penuh minat
Suatu bagian dari sebuah realitas yang terus bergerak dan layak dipahami
Sejarah yang bukan sekedar barang 'kering'

Ku letakkan karangan prosa ini
Bersama memoar yang terbang rendah di atas galeri kehidupan

Di Surabaya yang mulai petang
Imaji membayang tenang, tak terguncang
Kelak hal yang sama akan selalu teriring doa

Dalam narasi ini terurai harum sepucuk asa
Ekspedisi yang tak sekedar janji

Piringan kisah yang dijamu indah, bebas
Berlayar kesana-sini
Bertalian dengan rembulan yang menentang gemintang

Pergolakan pun berulang
Serdadu-serdadu malam kelaparan
Mereka tersandera riwayatmu

Kini, gugusan kisahmu meruncing tajam
Menggeser ribuan kudeta yang mengancam
Mempersegar kembali ingatan tentang sampan-sampan yang menawan

Langkahmu terjejakkan jelas
Senyummu membentang luas
Menenggelamkan segala kepanikan yang mengambang

Pendiskreditan kau lawan
Lantaran fragmen cerita yang berlawanan
Selebaran kata mengalir bertukaran

Tabiatmu berseru lantang
Kendati benakmu anggun terdiam

Propaganda, topeng 
Mengekang, Melumpuhkan
Tak cukup membujukmu menyerah

Bayangmu adalah pembaharuan
Yang menghiraukan prasyarat
Mengikis laju degradasi dan perdebatan

Duhai engkau yang tak mengenal kemasyhuran
Yang hidup hanya untuk masa pendek sahaja
Berbahagialah

Engkau bebas bergerak
Hingga nanti waktumu kembali



Sebuah refleksi 'sejarah kecil' untuk seorang Sahabat hebat, yang tepat 4 Januari berulang tahun yang ke 24 ; Hervy Marmianory Yudo, SP

Sabtu, 27 Agustus 2016

Mimpi keramat 7:06 – 27 Agustus 2016


Di sebuah persimpangan jalan, Cak Nun mendekat. Ia terlihat membawa sebuah lukisan yang dibopongnya, sedikit besar dan terlihat lumayan berat. Ia tak memperdulikan lalu lalang orang, tetap saja melaju ke arahku. Terlihat di sebrangku warung kopi giras dengan beberapa orang dewasa sedang ngopi di siang hari, sekitar ba’da dhuhur. Waktu itu aku sedang berada di lantai atas sebuah gedung.

Cak Nun tiba di lantai bawah, dia menaruh lukisan yang sedari tadi ia bawa. Aku teringat bahwa di rumahku ada 2 lukisan dari temanku yang untuk diserahkan kepada Cak Nun, aku juga sempat heran, kenapa dititipkan ke aku, padahal sekali pun aku tidak pernah bertemu Cak Nun. Siang itu, aneh juga, walau pertama kali berjumpa dengannya, aku seperti sudah mengenal lama seorang Nadjib (Cak Nun).

Dia terlihat lumayan kelelahan karena membawa lukisan tadi, lalu melihat ke arahku. Aku pun menyapanya, terjadi percakapan singkat di antara kami, sampai pada saat aku teringat akan lukisan teman-teman di rumah,

“Sampean kapan ada waktu, ada titipan buat sampean dari teman-temanku, 2 lukisan, masih di rumahku.”

            Cak Nun pun menimpali yang intinya dia sangat sibuk, dan jadwalnya padat, sulit untuknya bisa berlama-lama. Di tengah percakapan kami, terlintas seorang bapak-bapak agak tua mengendarai sepeda motor, ketika lumayan dekat dengan Cak Nun, dia berujar setengah berteriak,
           
                        “Lapo Nun ?!”

                        “Nang omahe Yudi!”, timpal Cak Nun disusul dengan gelak tawanya, lalu orang-orang yang berada di warung juga ikut tertawa, entah menertawakan apa, yang ku pikirkan, Yudi adalah nama asal sebut, demi menyambut sapaan bapak-bapak tua yang tadi melintas, Cak Nun seperti biasa terlihat akrab dengan siapapun.

            Candaku dengan Cak Nun sudah semakin jauh, kami saling jual beli candaan layaknya kawan lama yang dipertemukan kembali. Meski jarak percakapan yang lumayan jauh, dan saling berteriak, kami terlihat intim di dalamnya. Cak Nun lalu mendekat ke arah warung dan berniat duduk bersama para warga lainnya, hingga kalimatku,

                        “Ojo sampek aku emosi yo!”, nadaku sambil berteriak agak kencang, namun tetap dengan gimik bercanda.
           
Setelah kalimat itu terucap, semua orang tak terkecuali Cak Nun malah tertawa hebat. Cak Nun bahkan kembali mendekat ke arahku sambil menantang,
           
“Lha kowe arep ngopo?”

Entah sejak kapan, kakiku memutuskan untuk turun dari lantai atas dan mendekat, ketika Cak Nun sudah kembali tepat di bawahku di lantai dasar, aku langsung saja melompat ke hadaapannya dari posisiku yang masih di atas tadi.

Kini kami berhadapan dan saling bersalaman, ku cium tangannya, Cak Nun walau lebih seperti kawan, bagiku dia tetaplah seseorang guru. Lalu kembali ku bahas soal 2 lukisan temanku,

            “Ayo to, disempatkan, engko aku wedi dianggep gak amanah karo koncoku”, kataku memelas.

Cak Nun yang kini di sampingku lalu menoleh ke arahku, dia berujar yang pada intinya melihatku sebagai sosok yang amanah, lalu disusul gelak tawa. Percakapan kami semakin jauh, kami masuk ke dalam bangunan di lantai dasar, duduk bersila berhadap-hadapan, ku sadari bahwa ternyata bangunan tersebut adalah mirip parkir basement sebuah mall. Kami habiskan waktu bercengkramah cukup lama, sampai tiba-tiba ada lantunan puji-pujian yang menyita perhatian kami,

            “Sampean krungu ta ?”, tanyaku.

            Anggukan Cak Nun sudah mewakili jawabannya. Kami sedikit menikmati suara yang entah dari mana datangnya, kemudian semakin keras, dan ternyata terlihat di seberang kami sebelah kanan, agak jauh, sekitar 50 meter, ada segerombolan warga yang menggotong sebuah peti mati berselimutkan kain hijau berlafadzkan tauhid, mereka menjauh, terlihat menaiki tangga menuju arah bangunan yang lebih tinggi.

            Perhatianku tersita ketika terdengar olehku sebuah suara bantingan benda keras dari arah kerumunan pembawa jenazah tadi, ku amati mereka, terasa aneh. Di dalam hati aku ingin segera menyusulnya. Lalu keributan di antara penggotong-penggotong jenazah tadi pecah, entah karena sebab apa, aku pun tak jelas.

            Aku melupakan Cak Nun, aku mengikuti di belakang rombongan mereka hingga cukup dekat, mungkin sisa 10 meter aku tepat di belakang mereka. Tiba-Tiba, aku melihat sosok Cak Nun tanpa menggunakan kupluknya, namun yang aneh rambutnya tampak sedikit lebih gondrong dari biasanya, langsung berlari memecah barisan para rombongan pembawa jenazah dan merangsek ke depan, hingga tak lagi terlihat olehku.

            Anehnya, setelah itu ku lihat lagi sosok Cak Nun yangg kedua, kali ini aku berani bersaksi bahwa dialah Nadjib yang tadi bercakap denganku, tak lupa kupluk khasnya berwarna merah putih. Dia pun merangsek masuk ke dalam rombongan. Kali ini ku beranikan diri menyusulnya.

            Lalu ku lihat pemandangan yang amat sangat mengejutkan, para penggotong jenazah tadi telah berada dalam situasi yang chaos, peti sudah berada di lantai, dibiarkan terbuka, aku jauh lebih terkejut lagi, kini dibarengi dengan merindingnya sekujur tubuhku setelah melihat bahwa jenazah yang sebelumnya mereka gotong, tergeletak tak terurus di samping petinya. Kala itu, di pojokan ruangan serupa parkir mall tua. Aku melihat bahkan ada sesosok pemuda paruh baya yang bersiap seakan mau membakar jenazah itu, ia menggenggam sebuah korek api tua. Pikirku, apa yang hendak mereka lakukan ?, apa yang telah diperbuat si jenazah hingga ia mendapat perlakuan keji seperti ini?.
           
            Situasi makin menegangkan kala ku lihat sekitar 2-3 orang menyiramkan cairan entah bensin atau apa ke arah peti dan sebuah kotak instalasi listrik di dekat peti tersebut. Pikirku sudah melayang kemana-mana, apakah orang-orang ini sudah cukup gila dengan mau membakar atau meledakkan peti beserta jenazah yang ada di sampingnya. Lalu, cairan tersebut disiramkan ke tanah, dibawanya ke arah yang dirasa lebih aman untuk menyalakannya dengan api.

            Orang paruh baya yang sebelumnya ku lihat menggenggam korek api tua itu kini bersiap melemparkan koreknya, sontak gerombolan yang lain pergi menjauhi ledakan yang kami rasa memang akan cukup besar, mengingat di sana ada panel listrik yang juga ikut disiram bensin.

            Ketika orang-orang pergi menjauh, terlihat di mataku Cak Nun malah berdiri tenang di hadapan peti tersebut, mungkin jaraknya hanya sekitar 2 meter. Saking kagetnya, aku tak lagi sadar, apakah itu Cak Nun yang asli, ataukah yang palsu yang sebelumnya ku lihat. Aku pun sontak mendekatinya, aku mengajaknya lari tapi ia tak bergeming. Lalu aku pun pergi menjauh, bahkan aku berlari cukup kencang ke lantai yang lebih tinggi bersama orang-orang yang lebih dulu berlarian ke sana.

            Korek pun dilempar dari kejauhan, tapi belum juga terdengar atau terlihat ledakan disertai api besar, hanya api-api kecil yang membakar sedikit ujung peti dan di sekitar lokasi tempat peti, jenazah dan Cak Nun berdiri. Ku beranikan untuk mengintip Cak Nun, aku sedikit kaget ketika dia mengambil langkah kuda-kuda lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah api yang membakar ujung peti mati, lalu sekejap, api pun padam. Kini aku lebih yakin dan mendekat ke samping Cak Nun. Ku dengar dia melafadzkan sebuah doa untuk para segerombolan orang-orang yang menyebabkan kekacauan ini, lalu lagi, tangannya di arahkan ke para gerombolan tadi, lengkap, semua sisi dimana gerombolan tadi berada, disisir oleh tangan Cak Nun. Situasi berubah hening seketika. Sampai aku melihat di ujung sisi bangunan, ada perselisihan kecil antar sesama gerombolan yang ku tau tadinya mereka berkawan baik dan dari 1 golongan, tiba tiba perselisihan tersebut menyebar ke kelompok-kelompok kecil lainnya hingga mereka bermusuhan satu dengan yang lain, mengacuhkan kami, meninggalkan kami berdua bersama seonggok jenazah yang tak terurus.
           
Sontak aku pun tercengang, ku beranikan untuk melepas kalimat,

                        “Ayo kita urus!”, pintaku singkat.

                        “Ayo!”, jawab Cak Nun singkat pula.

            Aku belum sempat menengok keadaan si jenazah. Yang ku tau, tempat di sekitarnya sudah sangat kotor dan kacau, layaknya tempat yang habis terbakar. Cak Nun sudah memegang baskom beserta air yang entah dari mana ia dapat. Mungkin karena saking gemetarnya, aku terlalu lama terpaku. Semua situasi tadi memang di luar nalar.

Aku pun meminta air kepada Cak Nun untuk membersihkan jenazah dan tempat di sekitarnya. Lalu Cak Nun mengambil air di toilet yang ternyata berada dekat dengan kami, aku mendekatinya, ku ambil ember yang berada di sana. Ku bawa mendekat ke arah jenazah dan sekali lagi aku tercengang. Ada beberapa hal yang membuatku sangat kaget; (1) Keadaan di sekitar jenazah itu memang sangat memprihatinkan, namun penampilan jenazahnya sendiri masih cukup baik (2) Ku sadari ternyata jenazah tersebut tak dikafani (3) Ku amati baik-baik, sangkaan pertamaku jenazahnya telah terbakar dan menjadi tulang-belulang, namun ternyata tidak. Si jenazah terlihat kecil karena memang si jenazah adalah anak kecil.

Si jenazah hanya ditutupi oleh selembar kain putih. Ku beranikan untuk membukanya. Alangkah terkejutnya aku, ketika ku dapati si jenazah anak tersebut ternyata masih lengkap dengan alat pendukung kehidupan. Aku pun mengambil air lagi, setelah ku tengok, aku kembali dikejutkan oleh gerakan tangan dan kaki anak kecil yang ku kira berjenis kelamin perempuan itu. Aku sontak berteriak kepada Cak Nun,

            “Cak ! Jenazah ini masih hidup !”, teriakku pada Cak Nun yang masih sibuk mengurusi tempat di sekitar kami.

Aku sontak mendekatinya, mendekapnya, lalu ku rasakan hembusan nafas yang cukup kencang dari bagian dada yang ternyata berlubang. Naasnya, tak hanya terdapat 1 lubang, ku lihat ada sayatan lain di bagian kiri dada anak tersebut. Nafasnya tersengal-sengal, dia memberi isyarat untuk membenarkan posisi berbaringnya, lalu aku pun mengangkatnya supaya dalam posisi yang lebih enak untuk bernafas,

            “Sabar ya dek, sebentar..., tetaplah hidup, sabar...kamu harus kuat...”, kataku sambil mengelus wajahnya yang entah karena komplikasi penyakit apa, hingga membuat wajahnya pun tak seperti orang normal.

Berkali-kali aku kuatkan hatinya, ku beri motivasi untuk tetap berjuang melawan keterbatasannya. Selebihnya tak ada lagi yang bisa ku lakukan.

Terakhir, ku beranikan mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya.

Minggu, 31 Januari 2016

You

The best university is "youniversity". YOU got the lecture halls of thoughts in YOU! You got everything you need to graduate with first class accomplishments put in you! YOU can do it!

Credit : my lil sista, rima.

Pengikut