Selasa, 16 Mei 2017

Berdiri

Mega di Pawitra
Tidak terasa matahari sudah tinggi, enak-enak nyruput kopi, si Atun rewel lagi. "Aku takut turun Mas, pasti oleng dan jatuh".

Masrun senyum sambil nggremeng,"kok ya tega nyalahin motoriknya, wong kalau jalan ya normal-normal saja".
"Gremeng apa Mas?" Tanyaku.

"He kalian pernah dengar nama Bang Zulkarnain dan Sabar Gorky?!".
Aku ingat siapa mereka ini, orang buntung tangan dan kaki yang jadi pemanjat dan pendaki. Pengetahuan Masrun sudah tak di ragukan lagi, mungkin gegara doyan baca sejak dini. Maulid memanggilku, minta tolong fotoin dirinya di spot agak jauh dari tenda. "Lib, aku kok was-was juga ya turunnya" curhat Maulid.

Aku jawab,"Kamu pasti bisa".

"Tadi katamu, dulu jalannya berliku?" Bantah maulid.
Tholib & Maulid berdiskusi
di sela-sela turunan
"Lhah, tadi kan udah tak kasih tahu. Dan ternyata tim ekspedisi sejarah Ubaya sudah nemu sejarahnya. Aku tahunya juga baru saja. Mungkin Pawitra sendiri yang membakarnya, biar kita tahu ada jalur kuno disitu."

"Jangan bilang bumi yang ngasih tahu", Maulid nyeletuk. Masrun dan aku guya guyu.

Masrun yang sedari tadi menyimak angkat bicara juga,"Ingat waktu Kelud mbledug? Itu terjadi ketika Bupati Blitar dan Kediri rebutan wilayah Kelud".
"Maksudmu, kelud gak terima keindahannya di buat sengketa?" Aku merespon Masrun.
"Bisa saja, lha wong itu kediri sampai jogja terkena bencana, tapi Mblitar pas di bawahnya tenang-tenang saja". Jawab Masrun.

"Aku jadi korbannya Mas!, tapi kok bisa ya, mungkin angin kencang dari selatan yg membelokkannya".
"Atau sungkan, mau jatuh di atas makam para raja Nusantara" jawab Masrun.
"Utak atik gatuk Mas, tapi memang sih, ada makamnya Raden Wijaya, dan makam Soekarno juga disana."

Batinku, tadi bicara jalurnya Pawitra malah sampai ke makam raja. "Pantes Mas, orang dulu kuat dan sakti, Beribadah saja harus ngoyo setengah mati".

"Lalu tempat apa yg bakal didatangi setengah mati oleh orang taat, kuat, dan sakti?" Masrun menimpali.

Dari kiri: Tholib, Maulid, & Atun
ndoprok mengatur nafas
Maulid mencoba urun opini,"Tempat suci? Semedi? Biar dekat Sang Hyang Widi?"

"Ya itu kenapa Allah mengutus para wali, mengedukasi, kalau Tuhan itu ada di seluruh bumi bahkan di dalam hati dan lebih dekat dari urat nadi, tidak hanya tempat tinggi apalagi matahari. Pinjem korek Lib". Masrun wajahnya serius santai seperti biasa, sambil ndoprok kami bertiga lanjut bicara.
"Gini, intinya Pawitra itu sama halnya dengan Argodumilah dan Argopuro. Puncaknya dipakai orang untuk bertapa, toh sampai sekarang buktinya. Mungkin mereka lah yang tahu penjaga jawa dan rahasianya".

Jumat, 12 Mei 2017

Mungkin

Maulid menyendiri di dalam tenda
Maulid menyendiri, aku panggil dia,"Dek Maul (ma-ul), jangan hapean terus di tenda!". Sontak dia menolehku dan kubalas dengan gestur wajah dan mata menunjuk ke Atun.

Atun yg sedari tadi ngomel gak karuan, gara-gara lihat Masrun mlungker menggigil kedinginan. "Minum antangin lo Mas!, ini pake koyok!, tak bikinin teh panas ta?! Apa pakai jaketnya si Maul mas?! Di double in lo Mas". Aku ketawa lihat ekspresinya, tapi Atun makin girang ngomelnya. Ya mungkin itu cara tuhan menghangatkan badannya.

Atun yang ekspresif
Mendengar omelan Atun, jadi ingat ustadzah saya dulu pas masih ngaji, namanya Doktor Harini. Beliau menjabat KaDept di sebuah instansi, dan kebetulan juga pengurus HTI, yang jauh lebih tua dari ustadz Siauwmy. Seharusnya hanya konsultan skripsi, tapi malah jerawat, baju, hobi, dan asupan gizi yang dibenahi. Mungkin itu cara tuhan mewakilkannya kepadaku sosok Umi. Salam rindu ya ustadi...

Sembari ngudeg kopi tubruk, aku ganti bilang ke Atun,"Tun, biarkan saja Masrun tidur. Mungkin memang yang dicari hawa dinginnya". Atun menjawab nada melas kasian,"Gak tega Lib, kan kasian, lihat Masrun gemeteran".
Kenampakan geografis
Gunung Penanggungan 

Maulid nyeletuk nimpali Atun,"Masrun itu sudah jaketan, pakaiannya kering, beralas matras dan di dalam tenda. Minimal sudah anget, kalau masih menggigil kedinginan ya normal saja. Itu kan proses alami tubuh manusia. Lha kalau di surabaya? Mau orang-orang jaketan, pasang AC belasan, sampek Budhe Risma nandur pohon di jalan-jalan tetap saja sumuk kepanasan". Aku nambahi,"Ketebalan lemak juga pengaruh hahaha, ya wes nih kopi tubruk buat anget"an."

"Rame ae lur", masrun kebangun. Mungkin itu cara Tuhan membangunkannya, dengan berisik obrolan kami dan aroma kopi.

Selesai bercengkrama, aku melihat dari ketinggian deretan tenda-tenda. Aku langsung ingat, jika cermat dilihat, antara pos 1 sampai 4, geografis tanahnya bertingkat rapat. Pohonnya juga berjajar rapi dekat-dekat. Mungkin dulu pernah ada yang ngerumat, atau gunung sendiri yang membuat? Ah masak bumi itu hidup dan menjalankan syariat?!.
Dari kiri: Atun, Maulid & Tholib
Bersiap untuk turun dari Puncak Pawitra
(Dijepret oleh Masrun yang baru bangun tidur)

Memang, aku pernah mendengar sebuah kisah. Ketika perang Uhud, Rasulullah saw dan pasukan pemanahnya yang teledor, kalah. Melihat Rasulullah saw bersimbah darah. Para malaikat marah dan Bumi ikut bersumpah,"Jika menetes satu titik darah Rasulullah saw jatuh ke tanah. Akan kubalikkan gunung-gunung dan aku hantamkan ke pasukan kafir hingga luluh lantah". Rasullulah saw memohon merendah, mendoakan si kafir segera mendapat hidayah. Mungkin itu yg dimaksud bisyafaati Rasulillah.


-Ditulis oleh Tholib-

Selasa, 09 Mei 2017

Tumbuh

Tholib selonjoran menikmati
syahdunya puncak Pawitra
Masrun belum juga sampai puncak, aku tunggu sembari ngudud dji sam soe, duduk selonjor hadap utara manjakan bibir nikmati tembakau madura. "Mantap jiwwaa, Lha itu pulaunya keliatan di depan mata". Tholib bergumam sendiri, linglung toleh kanan kiri.

Sore itu agak sedikit berbeda, mungkin karena dekat sama cakrawala. Semenjak di puncak, mata Tholib fokus memandang. Tenggelamnya matahari dan kelokan-kelokan kali brantas. Pikirannya mulai mengalir deras, tentang peradaban, dinamika kehidupan, sampai tujuan dialirkan-Nya dari Malang ke Surabaya, dari kanjuruhan ke jenggala.

Tholib ngudud ditemani
sebotol sinom
Pikiran Tholib makin menjadi tak mau berhenti. Jelas ini kebanyakan imajinasi karena masih sendiri, tambah mureng koyok areng. Batinnya mulai angkat bicara,"Coba saja di jawa tidak ada kawi welirang arjuna, sudah jelas tidak akan ada brantas. Lha kalau brantas tidak ada, tidak mungkin muncul peradaban di pantai selatan, lantas bagaimana gajayana mengkhalifahi kerajaannya, Airlangga tidak akan hijrah ke timur jawa dwipa, alas tarik tidak pernah di babat oleh raden wijaya, maka jangan harap ada legenda gajah mada menyatukan nusantara, hingga berdirinya ampel denta, lalu generasi kita? Hemh". Idha arada syaia ayyakula lahu kun faya kun. Tholib cekikikan mendengar batinnya bicara. Cuek saja klepas klepus menghabiskan ududnya.

Rombongan kami membelah lebatnya
hutan Penanggungan
Tak selang berapa menit. Masrun, Maulid, Atun datang ngos-ngosan wajahnya pucat kelihatan lapar dan kedinginan. Setidaknya beruntung sekali mereka, cuaca di pawitra sedang bagus-bagusnya. Tidak seperti yg di alami Tholib 8 tahun silam, baru datang disambut hujan badai semalaman, tubuh menggigil meradang, cuma bergantung sama tenda yg hampir tumbang. Memang benar, Anak muda jauh dari nyawa.

Kita berempat sepakat, bangun tenda di kawah sebelah kanan. Jarang di pake orang. Tholib mengkomando untuk buka lahan yg masih berupa rumput setinggi lutut. Beres lahan, Tholib dan Masrun lanjut bangun tenda, Maulid dan Atun bongkar logistik. Tholib sengaja cari lokasi agak tinggi, jaga-jaga kalau hujan biar tidak tergenang. Kontur tanah dan posisinya pas datar walaupun harus bikin akses jalan juga. Namanya juga Tholib, pinter kalau disuruh membaca dan mencari lokasi.

Atun sedang sholat shubuh
ditemani semerbak mega
Malam panjang remang-remang, istirahatkan badan sambil UNO-an. Cuaca tidak terlalu dingin, kisaran 10-15°C. Walaupun capek dan kedinginan, tetep tidak lupa  subuhan, tapi gak asharan, magriban karo isyakan. Wes kadung.


-Ditulis oleh Tholib-

Senin, 27 Februari 2017

Kata Kata

Kata kita, kata darimu.
Kataku puisi itu momentum, perasaan.
Katamu itu hanya kata-kata tersirat,
Kata yang divisualisasikan berbeda.
Kata darimu, itu menakjubkan.
Gila kalau kubilang.
Setangkup dua tangkup, mengeja degup.
Hei, itu lebih dari sekedar ajaib.
Seperti melolong, kosong tapi memenuhiku..
Kata Kata ..
Kita mencoba memaknainya.
Kadang, kita dipersatukan oleh kata-kata.
Kadang, kita dipisahkan oleh kata-kata.
Kataku, itu indah.
Katamu, itu seninya.
Kata-kata itu kita.


-Anonim-
2:26PM
27-02-2017

Kamis, 23 Februari 2017

Lonceng Syahdu dari Tuhan

Bukan sekedar tangkai bergelombang, 
Perumpamaan klasik yang entah sejak kapan terhayati

Seganku bermalam di peluh wajahmu,
Takutmu tertahan dalam tiap senyumanku, 
Nafasku satu-satu meniti rindu

Naifku bersama menjemput janji, 
Sungguh prasangkaku tak cukup picik memilah ini daya atau damba, 
Hingga ia berbuat seenaknya

Bentuk bakti teruji, 
Berbagi tak kenal henti, 
Tinggi rendah terjembatani

Bisikku, 'Maha Besar Tuhan', 
Puji-pujian larut dalam tangisan, 
Panjatan syukur terabadikan, 
Perbedaan pun terabaikan

Dari celah hujan, ku menampik, 
Siasati enggan yang perlahan memekat

Menjelang pagi ku nikmati,
Rintihan mimpi penuh jeruji

Kini ruam-ruam awan meredam, 
Mencari-cari tanya di sulaman malam-malam, 
Aku melintang,
Mengingat kematian

Jasad-jasad kotor tetaplah menumpang, 
Melepas ikhlas, 
Menahan haru

Ku tengok waktu, 
Sujudmu datang mewasiatiku

Beberapa pekan berlalu, 
Lonceng syahdu membangunkanku

Pengikut