Kamis, 21 Desember 2017

Dakwah; dimana & kepada siapa?

Belakangan ini kerap kita jumpai baik kawan, sejawat, atau bahkan keluarga kita sendiri, aktif 'berdakwah' dengan menggunakan media sosial; me-repost/men-share postingan dari Ustadz-Ustadzah Sunnah, mengcopy-paste postingan dari website-website sunnah, dan lain sebagainya. Uniknya, hal ini bersifat masif serta cenderung terstruktur.

Nah, yang saya cermati pada fenomena ini adalah, bahan-bahan dalam 'dakwah' mereka ini dilemparkan begitu saja kepada masyarakat tanpa mempertimbangkan unsur sosial-budaya, bahkan cenderung abai terhadap faktor kemajemukan dan toleransi beragama.

Dengan retorika berbalut dalil-dalil syar'i, mereka mengajak masyarakat untuk mendekat dan bersedia 'hijrah' bersama mereka menuju pemahaman Qur'an dan Hadits.

Memang, kita semua semestinya ambil bagian dari sebuah perlombaan dalam berbuat kebaikan, namun dalam prosesnya, ada banyak hal yang tidak boleh kita nafikkan. Memperjuangkan nilai-nilai kebaikan harus dengan cara yang baik pula, supaya visi rahmatan lil 'alamiin terwujud secara paripurna.

Seorang Da'i sebelum melakukan dakwah, seyogyanya dan/atau setidak-tidaknya memahami 2 hal; apa yang mereka dakwahkan dan kepada siapa mereka berdakwah.

Jika satu saja timpang, maka niat baik dalam berdakwah akan cacat karena metode dakwah yang keliru. Jangan sampai dakwah yang mustinya penuh keberkahan, malah mengundang banyak kemudharatan. Seperti halnya analogi; ingin mencuci pakaian supaya bersih nan suci, namun yang digunakan untuk mencuci adalah air kencing.

Alih-alih mendapatkan perhatian, yang ada malah kesangsian (dari masyarakat atau obyek dakwah). Bahkan yang lebih jauh, menimbulkan rona-rona kecemburuan sosial dari mereka yang berbeda pandangan.

Ajaklah mereka dengan baik, dengan cara yang santun, dan yang paling utama adalah tunjukkan, bukan sekedar bacakan. Inti dari dakwah adalah menunjukkan akhlak mulia seorang Da'i itu sendiri, tidak melulu mengumbar dalil. Bukankah yang disampaikan dari hati (yang jernih), akan sampai ke hati pula ?

Ghiroh keagamaan yang tinggi di dalam hati hendaknya tetap harus terkontrol oleh akal, supaya tercermin dalam perkataan dan tindakan. Jangan malah disandingkan dengan hawa nafsu. Yang perlu kita ingat, manajemen nafsu inilah yang bisa menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat atau lebih hina daripada binatang.

Obyek dakwah kita musti kita cintai, jangan malah dianggap salah, hina, atau bahkan dijauhi dan perlu dimusuhi, sekali lagi jangan. Berdakwalah tanpa harus menunjukkan kesalahan orang lain, berdakwalah seakan-akan orang lain tidak sedang merasa di bawah atau kita yang di atas, berdakwalah kepada siapa pun tanpa harus membuat mereka merasa sedang didakwahi.

Tantangan bagi seorang Da'i tak lain adalah sikap ujub, riya', dan semacamnya. Bom waktu berupa kesinisan atau bahkan kesombongan (terhadap obyek dakwah) yang tersembunyi inilah yang menjadi pangkal dari sebuah egoisme, kekerasan, permusuhan dan bahkan bisa lebih buruk menjadi sebuah tindakan radikalisme.

Berdakwah itu baik, namun alangkah baiknya jika memahami tempat dan kepada siapa kita berdakwah. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Semoga kita senantiasa diberikan nikmat dan rahmat oleh-Nya untuk bisa lebih memahami setiap apa yang didakwahkan kepada kita dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Wallahu'alam bish shawab.

Selasa, 28 November 2017

Mengaji~

Seperti halnya firman Allah SWT yang pertama, kita semua diminta untuk membaca. Membaca dalam konteks ini adalah membaca kehidupan, tak hanya ayat-ayat qauliyah, namun juga ayat-ayat kauniyah-Nya. Jika kita bicara soal mengaji kehidupan, sebelumnya kita pun mesti memahami sepenuhnya bagaimana etika para pencari ilmu kepada siapa/apa saja yang layak dijadikannya guru.

Etika yang pertama dan paling utama adalah ketakdziman terhadap siapapun yang kita anggap dia guru, sami’na wa ato’na. Kalimat ini menegaskan kekosongan diri untuk kemudian siap diisi dengan segala pengetahuan dari sang guru. Seperti yang dikatakan Nabiyullah Khidir AS terhadap Nabiyullah Musa AS, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.". Kita musti bersabar dan istiqomah, serta senantiasa husnudzon kepada setiap ‘alim.

Pada step selanjutnya adalah menentukan kepada siapa kita hendaknya belajar. Seyogyanya kita memang berkhidmat pada seorang guru yang memiliki sanad yang mu’tabar hingga sampai ke Baginda Rasulullah SAW. Namun pada hakikatnya, setiap orang adalah guru bagi orang yang lain. Jagat raya ini terhampar begitu luasnya juga merupakan jabaran dari ayat-ayat kauniyah Allah SWT yang musti kita kaji secara mendalam dan komprehensif. Bukankah Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengadakan perjalanan-perjalanan di muka bumi supaya kita bisa membuktikan ke-Esa-an-Nya? Jika ditarik lebih pendek lagi, cukuplah keterangan Allah SWT yang menjadikan kita khalifah di muka bumi ini sebagai hujjah bahwa kita semestinya pun memahami dimana kita memimpin.

Semakin banyak wajah yang kita temui, maka akan berbanding lurus dengan semakin banyaknya pula hal-hal yang bisa kita gali sekaligus kita kaji. Mengaji bukan melulu di majelis-majelis atau pun di pesantren-pesantren, walau tak bisa dipungkiri bahwa keduanya (atau ditambah dengan bentuk lembaga pendidikan lain) merupakan garda terdepan dalam peranan pembentukan insan yang berkarakter dan berakhlak mulia yang berdasar sekaligus bersandar pada syariat-syariat religiusitas. Menyadur dari kalimat indah Mbah Yai Mustofa Bisri Rembang, yang mana pada intinya menegaskan bahwa definisi seorang santri tidak hanya terkompresi pada mereka yang hanya mengenyam pendidikan di pondok pesantren, namun seseorang juga bisa disebut santri jika memang akhlaknya merepresentasikan akhlak seorang santri.

Dari sini penekanannya adalah output berupa akhlakul karimah, tentu tanpa menafikkan sebuah proses yang panjang dan penuh pengorbanan ketika berusaha meraihnya. Bicara soal pengorbanan, bentuknya pun bermacam-macam, dan setiap orang memiliki kisahnya tersendiri, semuanya bermuara pada yang namanya uswatun hasanah, menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakat atau komunitasnya masing-masing tempat ia hidup dan mengabdi. Mengaji bukan melulu soal bertindak, terkadang mengaji pun cukup dengan diam, namun yang membedakan antara diamnya seorang pencari ilmu dengan diam pada umunya adalah kita diam dalam rangka menyelami tindak tanduk sang guru dan merenungi hikmah dari setiap ucapan dan juga perbuatannya. Bayangkan, betapa indah Allah SWT melukiskan hubungan guru dan murid tersebut pada Surat Al Kahfi 60-82.

Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Mengetahui, Maha Benar Allah SWT dengan segala firman dan ayat-ayatnya. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Selasa, 16 Mei 2017

Berdiri

Mega di Pawitra
Tidak terasa matahari sudah tinggi, enak-enak nyruput kopi, si Atun rewel lagi. "Aku takut turun Mas, pasti oleng dan jatuh".

Masrun senyum sambil nggremeng,"kok ya tega nyalahin motoriknya, wong kalau jalan ya normal-normal saja".
"Gremeng apa Mas?" Tanyaku.

"He kalian pernah dengar nama Bang Zulkarnain dan Sabar Gorky?!".
Aku ingat siapa mereka ini, orang buntung tangan dan kaki yang jadi pemanjat dan pendaki. Pengetahuan Masrun sudah tak di ragukan lagi, mungkin gegara doyan baca sejak dini. Maulid memanggilku, minta tolong fotoin dirinya di spot agak jauh dari tenda. "Lib, aku kok was-was juga ya turunnya" curhat Maulid.

Aku jawab,"Kamu pasti bisa".

"Tadi katamu, dulu jalannya berliku?" Bantah maulid.
Tholib & Maulid berdiskusi
di sela-sela turunan
"Lhah, tadi kan udah tak kasih tahu. Dan ternyata tim ekspedisi sejarah Ubaya sudah nemu sejarahnya. Aku tahunya juga baru saja. Mungkin Pawitra sendiri yang membakarnya, biar kita tahu ada jalur kuno disitu."

"Jangan bilang bumi yang ngasih tahu", Maulid nyeletuk. Masrun dan aku guya guyu.

Masrun yang sedari tadi menyimak angkat bicara juga,"Ingat waktu Kelud mbledug? Itu terjadi ketika Bupati Blitar dan Kediri rebutan wilayah Kelud".
"Maksudmu, kelud gak terima keindahannya di buat sengketa?" Aku merespon Masrun.
"Bisa saja, lha wong itu kediri sampai jogja terkena bencana, tapi Mblitar pas di bawahnya tenang-tenang saja". Jawab Masrun.

"Aku jadi korbannya Mas!, tapi kok bisa ya, mungkin angin kencang dari selatan yg membelokkannya".
"Atau sungkan, mau jatuh di atas makam para raja Nusantara" jawab Masrun.
"Utak atik gatuk Mas, tapi memang sih, ada makamnya Raden Wijaya, dan makam Soekarno juga disana."

Batinku, tadi bicara jalurnya Pawitra malah sampai ke makam raja. "Pantes Mas, orang dulu kuat dan sakti, Beribadah saja harus ngoyo setengah mati".

"Lalu tempat apa yg bakal didatangi setengah mati oleh orang taat, kuat, dan sakti?" Masrun menimpali.

Dari kiri: Tholib, Maulid, & Atun
ndoprok mengatur nafas
Maulid mencoba urun opini,"Tempat suci? Semedi? Biar dekat Sang Hyang Widi?"

"Ya itu kenapa Allah mengutus para wali, mengedukasi, kalau Tuhan itu ada di seluruh bumi bahkan di dalam hati dan lebih dekat dari urat nadi, tidak hanya tempat tinggi apalagi matahari. Pinjem korek Lib". Masrun wajahnya serius santai seperti biasa, sambil ndoprok kami bertiga lanjut bicara.
"Gini, intinya Pawitra itu sama halnya dengan Argodumilah dan Argopuro. Puncaknya dipakai orang untuk bertapa, toh sampai sekarang buktinya. Mungkin mereka lah yang tahu penjaga jawa dan rahasianya".

Jumat, 12 Mei 2017

Mungkin

Maulid menyendiri di dalam tenda
Maulid menyendiri, aku panggil dia,"Dek Maul (ma-ul), jangan hapean terus di tenda!". Sontak dia menolehku dan kubalas dengan gestur wajah dan mata menunjuk ke Atun.

Atun yg sedari tadi ngomel gak karuan, gara-gara lihat Masrun mlungker menggigil kedinginan. "Minum antangin lo Mas!, ini pake koyok!, tak bikinin teh panas ta?! Apa pakai jaketnya si Maul mas?! Di double in lo Mas". Aku ketawa lihat ekspresinya, tapi Atun makin girang ngomelnya. Ya mungkin itu cara tuhan menghangatkan badannya.

Atun yang ekspresif
Mendengar omelan Atun, jadi ingat ustadzah saya dulu pas masih ngaji, namanya Doktor Harini. Beliau menjabat KaDept di sebuah instansi, dan kebetulan juga pengurus HTI, yang jauh lebih tua dari ustadz Siauwmy. Seharusnya hanya konsultan skripsi, tapi malah jerawat, baju, hobi, dan asupan gizi yang dibenahi. Mungkin itu cara tuhan mewakilkannya kepadaku sosok Umi. Salam rindu ya ustadi...

Sembari ngudeg kopi tubruk, aku ganti bilang ke Atun,"Tun, biarkan saja Masrun tidur. Mungkin memang yang dicari hawa dinginnya". Atun menjawab nada melas kasian,"Gak tega Lib, kan kasian, lihat Masrun gemeteran".
Kenampakan geografis
Gunung Penanggungan 

Maulid nyeletuk nimpali Atun,"Masrun itu sudah jaketan, pakaiannya kering, beralas matras dan di dalam tenda. Minimal sudah anget, kalau masih menggigil kedinginan ya normal saja. Itu kan proses alami tubuh manusia. Lha kalau di surabaya? Mau orang-orang jaketan, pasang AC belasan, sampek Budhe Risma nandur pohon di jalan-jalan tetap saja sumuk kepanasan". Aku nambahi,"Ketebalan lemak juga pengaruh hahaha, ya wes nih kopi tubruk buat anget"an."

"Rame ae lur", masrun kebangun. Mungkin itu cara Tuhan membangunkannya, dengan berisik obrolan kami dan aroma kopi.

Selesai bercengkrama, aku melihat dari ketinggian deretan tenda-tenda. Aku langsung ingat, jika cermat dilihat, antara pos 1 sampai 4, geografis tanahnya bertingkat rapat. Pohonnya juga berjajar rapi dekat-dekat. Mungkin dulu pernah ada yang ngerumat, atau gunung sendiri yang membuat? Ah masak bumi itu hidup dan menjalankan syariat?!.
Dari kiri: Atun, Maulid & Tholib
Bersiap untuk turun dari Puncak Pawitra
(Dijepret oleh Masrun yang baru bangun tidur)

Memang, aku pernah mendengar sebuah kisah. Ketika perang Uhud, Rasulullah saw dan pasukan pemanahnya yang teledor, kalah. Melihat Rasulullah saw bersimbah darah. Para malaikat marah dan Bumi ikut bersumpah,"Jika menetes satu titik darah Rasulullah saw jatuh ke tanah. Akan kubalikkan gunung-gunung dan aku hantamkan ke pasukan kafir hingga luluh lantah". Rasullulah saw memohon merendah, mendoakan si kafir segera mendapat hidayah. Mungkin itu yg dimaksud bisyafaati Rasulillah.


-Ditulis oleh Tholib-

Selasa, 09 Mei 2017

Tumbuh

Tholib selonjoran menikmati
syahdunya puncak Pawitra
Masrun belum juga sampai puncak, aku tunggu sembari ngudud dji sam soe, duduk selonjor hadap utara manjakan bibir nikmati tembakau madura. "Mantap jiwwaa, Lha itu pulaunya keliatan di depan mata". Tholib bergumam sendiri, linglung toleh kanan kiri.

Sore itu agak sedikit berbeda, mungkin karena dekat sama cakrawala. Semenjak di puncak, mata Tholib fokus memandang. Tenggelamnya matahari dan kelokan-kelokan kali brantas. Pikirannya mulai mengalir deras, tentang peradaban, dinamika kehidupan, sampai tujuan dialirkan-Nya dari Malang ke Surabaya, dari kanjuruhan ke jenggala.

Tholib ngudud ditemani
sebotol sinom
Pikiran Tholib makin menjadi tak mau berhenti. Jelas ini kebanyakan imajinasi karena masih sendiri, tambah mureng koyok areng. Batinnya mulai angkat bicara,"Coba saja di jawa tidak ada kawi welirang arjuna, sudah jelas tidak akan ada brantas. Lha kalau brantas tidak ada, tidak mungkin muncul peradaban di pantai selatan, lantas bagaimana gajayana mengkhalifahi kerajaannya, Airlangga tidak akan hijrah ke timur jawa dwipa, alas tarik tidak pernah di babat oleh raden wijaya, maka jangan harap ada legenda gajah mada menyatukan nusantara, hingga berdirinya ampel denta, lalu generasi kita? Hemh". Idha arada syaia ayyakula lahu kun faya kun. Tholib cekikikan mendengar batinnya bicara. Cuek saja klepas klepus menghabiskan ududnya.

Rombongan kami membelah lebatnya
hutan Penanggungan
Tak selang berapa menit. Masrun, Maulid, Atun datang ngos-ngosan wajahnya pucat kelihatan lapar dan kedinginan. Setidaknya beruntung sekali mereka, cuaca di pawitra sedang bagus-bagusnya. Tidak seperti yg di alami Tholib 8 tahun silam, baru datang disambut hujan badai semalaman, tubuh menggigil meradang, cuma bergantung sama tenda yg hampir tumbang. Memang benar, Anak muda jauh dari nyawa.

Kita berempat sepakat, bangun tenda di kawah sebelah kanan. Jarang di pake orang. Tholib mengkomando untuk buka lahan yg masih berupa rumput setinggi lutut. Beres lahan, Tholib dan Masrun lanjut bangun tenda, Maulid dan Atun bongkar logistik. Tholib sengaja cari lokasi agak tinggi, jaga-jaga kalau hujan biar tidak tergenang. Kontur tanah dan posisinya pas datar walaupun harus bikin akses jalan juga. Namanya juga Tholib, pinter kalau disuruh membaca dan mencari lokasi.

Atun sedang sholat shubuh
ditemani semerbak mega
Malam panjang remang-remang, istirahatkan badan sambil UNO-an. Cuaca tidak terlalu dingin, kisaran 10-15°C. Walaupun capek dan kedinginan, tetep tidak lupa  subuhan, tapi gak asharan, magriban karo isyakan. Wes kadung.


-Ditulis oleh Tholib-

Pengikut