Senin, 19 Februari 2018

Tentang Sesuatu yang Dinamakan Perasaan

Selama ini orang bebas memberikan label kepada saya mengenai sesuatu yang dinamakan perasaan. Dari seorang lelaki yang terlalu jual mahal, lelaki yang terlalu menyayangi harga dirinya hingga lelaki yang kerap tidak peka dan tidak peduli. Biarlah, mereka bebas memberi nilai. Namun, tahukah bahwa saya sesungguhnya tidak begitu mampu mengontrol perasaan saya dengan baik dan benar. Kerap saya menemukan diri saya menjadi orang bodoh yang nilainya merah dalam urusan memahami "rasa". 


Beberapa kali sudah, hati ini sempat terkait dengan beberapa orang. Tak banyak dan sungguh sedikit. Termasuk wanita itu. Namun sungguh sekali lagi, saya benar-benar berusaha mengendalikan perasaan ini, untuk tidak terlalu jauh jatuh atau terjebak dalam asumsi-asumsi pribadi yang mematikan juga memalukan. Sebelum ada sebuah ikatan, insya Allah, logika saya ini masih beroperasi dengan baik. Menghalau perasaan yang sifatnya liar dan semaunya sendiri.


Lalu, ijinkan saya bercerita tentang suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan, namun saya ingin orang-orang untuk maklum-kan. Saya tidak bisa bicara, karena mulut bisa saja berbohong. Tapi tulisan saya tidak.


Saya menyukaimu kemarin dan hari ini, besok atau lusa saya tidak tahu.


------


Malam itu udara tidak tipis seperti di atas awan. Tekanannya normal dan wajar. Angin bertiup pelan berbisik perlahan di antara desis rokok yang saya sulut dan denting gelas-gelas aluminium yang disela gelak tawa. Kemudian, sebuah pertanyaan terlontar. Kalimat yang ditunggu-tunggu selama 23 tahun saya hidup dunia. Keluar dari seseorang, yang bahkan kehadirannya tidak terlalu saya pusingkan.


Saya resmi berada pada titik bifurkasi. Titik percabangan yang apabila terjadi perubahan kecil akan mengarah pada chaos. Ketidakteraturan dalam sebuah keteraturan. Saya terjebak, dan saya menyukai kekacauan ini. Hingga akhirnya saya sadar, mungkin saat itu saya kehilangan kendali akan logika. Hingga saya begitu permisif dengan asumsi-asumsi pribadi yang sudah berjalan terlampau jauh. 


Apalah arti sebuah titik percabangan dan chaos. Bila sebuah partikel tidak bisa memutuskan ke jalur mana dia akan memilih. Seperti saya yang memilih untuk stagnan. Memilih berlarut-larut dalam sendunya perasaan. Berusaha mati-matian untuk tidak jatuh. Namun malah, bertahan. Kalah karena keadaan. Saya kalah, kali ini kalah. 


Kami dipertemukan dengan saput-saput gyrus dan sulcus yang berbeda. Ukuran batang otak yang berbeda dan kecepatan transfer sinyal pada sinaps yang demikian berbeda. Pun juga cara memahami yang berbeda. Namun, banyak hal-hal kecil yang sama-sama kita coba untuk mafhum-kan. Benar? 


Boleh saya mencatat?

Mungkin dia bisa saja lupa, atau menganggap semuanya hanya hampa. Bukan apa-apa.


Ada yang berbeda saat kedua mata kami beradu sepersekian detik di sebuah pagi yang tergesa-gesa. Dari ungkapan spontan yang tahu-tahu pernah diabadikan dalam-dalam. Lagu sendu yang sengaja dikumandangkan kemudian diulang-ulang. Perdebatan kecil yang menyenangkan. Cerita-cerita yang tak pernah habis disampaikan dan tak pernah selesai dibahasakan. Juga tak lupa, pertunjukan-pertunjukan receh yang sama-sama kita tertawakan. 


Oh iya jangan lupa, jawaban-jawaban yang tidak pernah disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang disisipkan, di setiap perbincangan. 


Baiklah .. begitu saja. 

Sampai di titik ini.

Saya menyadari, bahwa kesenangan selalu datang satu paket dengan kekecewaan. Seperti dua sisi mata uang.


Ungkapan menyakitkan pun pernah melayang-layang. Tak pernah luput, namun tak pernah saya tangkap. Pemberian-pemberian yang tak pernah diarsip dan dibersihkan. Langkah-langkah besar yang terkesan meninggalkan juga perkataan-perkataan yang terkesan menggampangkan. 


Hal-hal itu semua tidak saya lupakan. Baik buruk, bahagia sedih, yin dan yang. Semua melekat dengan baik, tertulis rapi dalam lembaran-lembaran buku harian lusuh di sudut almari. Sejak saat itu, saya suka melihat logika dan perasaan saya bersitegang, kemudian saya dengan pasrah mengikuti mana yang dominan.


Biarlah, logika terkadang bisa sangat menyakitkan. Atau perasaan yang seringnya sangat memalukan. Saya ikuti saja, saya terlatih berani menghadapi segala konsekuensi dari pilihan-pilihan saya. 


Singkat.

Hingga pada suatu hari..

Perasaan juga akan mengalami badai suatu saat. Namanya juga badai, kejadiannya tidak bisa diprediksi. Mau tak mau, siap tak siap ada yang harus pergi. Secara prediksi, saya siap. Namun saya tak menyangka. Bahwa ini sudah terlalu dalam. Saya kehilangan.


Jangan menanam bila tak ingin kehilangan apa-apa (Soe Hok Gie)


Tidak ada niat untuk menanam, namun ada benih yang jatuh tidak sengaja dan ia tumbuh tanpa permisi. Tolong, siapapun. Sesuatu ini hidup, terus bertumbuh dan kadang saya tidak tega membunuhnya. 


Ia pergi. Tidak ada lagi sosoknya, dalam panggung yang sehari-hari berjalan rutin dan ritmis. Dia yang berbagi peran dengan mbak-mbak parkir yang mengunyah camilan setiap pagi, dengan ibu-ibu berbau balsam di toilet ujung ruangan, dengan wangi khas pembersih lantai yang tergesa-gesa atau deru kipas angin yang tak pernah seharmoni dengan pendingin ruangan. 


Lantas, saya menyadari. Bahwa-- seperti apa yang pernah kami sepakati. Pada waktunya, hidup adalah sebuah sistem pelepasan. Kemudian, jarak akan menghasilkan jutaan pertanyaan, menyesaki daftar-daftar tanda tanya yang belum pernah terjawab.


Sungguh, saya tidak ingin menyerah mencari jawaban, namun rasanya hidup memang sedang bermain-main. Mengajak saya mengikuti alurnya sebelum benar-benar bertemu sebuah kesimpulan. 


Apakah saya tahu bagaimana perasaannya terhadap saya? 

Tidak. Saya tidak pernah tahu. Tidak pernah sekalipun. 


Saya ini apa, berharap pada sesuatu yang kehadirannya setipis kabut di pagi hari. Yang dulu sering saya jumpai saat mengendarai sepeda angin ke sekolah. Kabut sangat tipis, yang datang dan pergi. Dia mirip dengan kabut itu.


.....


Banyak alasan yang membuat saya begini. Saya mencintai diri saya. Bersamanya, terlihat sulit-- karena diri ini terlihat menyedihkan. Saya takut ia menganggap remeh semuanya. 


Saya juga takut, saya tidak cukup dewasa untuk menjaga perasaan saya. Saya takut ia terluka. 


Saya takut saya tidak cukup baik untuknya. 


Saya takut saya bukan saya, ketika bersamanya.

Atau, dia bukan dia, saat bersama saya.


Benar katanya..

Seperti puisi Candra Malik.

"Cinta yang meredupkan nyali"


Jadi ini rasa apa?



Saya putuskan menulis tulisan ini. Karena saya tidak bisa berbicara dengan cara lain, selain dengan tulisan. Tulisan adalah sejujur-jujurnya diri saya. Tanpa pretensi apa-apa. 



Ya Muqollibal Qulub.

Hanya Allah yang Maha membolak balikkan hati. Hanya Allah yang mampu menghendaki kejadian seperti ini. Hanya kepada Allah, aku berlindung. 


Sudah saya ikhlaskan semuanya. Dengan atau tanpa dia. Dunia tidak akan berubah.



PS: 

Kamu tahu, kenapa ia begitu berbeda? 

Karena ia mengizinkan saya menatap matanya dalam-dalam saat saya bertanya mengenai puisi sihir hujan. Dari dulu, tidak pernah ada yang begitu, menurutnya.

Kamis, 21 Desember 2017

Dakwah; dimana & kepada siapa?

Belakangan ini kerap kita jumpai baik kawan, sejawat, atau bahkan keluarga kita sendiri, aktif 'berdakwah' dengan menggunakan media sosial; me-repost/men-share postingan dari Ustadz-Ustadzah Sunnah, mengcopy-paste postingan dari website-website sunnah, dan lain sebagainya. Uniknya, hal ini bersifat masif serta cenderung terstruktur.

Nah, yang saya cermati pada fenomena ini adalah, bahan-bahan dalam 'dakwah' mereka ini dilemparkan begitu saja kepada masyarakat tanpa mempertimbangkan unsur sosial-budaya, bahkan cenderung abai terhadap faktor kemajemukan dan toleransi beragama.

Dengan retorika berbalut dalil-dalil syar'i, mereka mengajak masyarakat untuk mendekat dan bersedia 'hijrah' bersama mereka menuju pemahaman Qur'an dan Hadits.

Memang, kita semua semestinya ambil bagian dari sebuah perlombaan dalam berbuat kebaikan, namun dalam prosesnya, ada banyak hal yang tidak boleh kita nafikkan. Memperjuangkan nilai-nilai kebaikan harus dengan cara yang baik pula, supaya visi rahmatan lil 'alamiin terwujud secara paripurna.

Seorang Da'i sebelum melakukan dakwah, seyogyanya dan/atau setidak-tidaknya memahami 2 hal; apa yang mereka dakwahkan dan kepada siapa mereka berdakwah.

Jika satu saja timpang, maka niat baik dalam berdakwah akan cacat karena metode dakwah yang keliru. Jangan sampai dakwah yang mustinya penuh keberkahan, malah mengundang banyak kemudharatan. Seperti halnya analogi; ingin mencuci pakaian supaya bersih nan suci, namun yang digunakan untuk mencuci adalah air kencing.

Alih-alih mendapatkan perhatian, yang ada malah kesangsian (dari masyarakat atau obyek dakwah). Bahkan yang lebih jauh, menimbulkan rona-rona kecemburuan sosial dari mereka yang berbeda pandangan.

Ajaklah mereka dengan baik, dengan cara yang santun, dan yang paling utama adalah tunjukkan, bukan sekedar bacakan. Inti dari dakwah adalah menunjukkan akhlak mulia seorang Da'i itu sendiri, tidak melulu mengumbar dalil. Bukankah yang disampaikan dari hati (yang jernih), akan sampai ke hati pula ?

Ghiroh keagamaan yang tinggi di dalam hati hendaknya tetap harus terkontrol oleh akal, supaya tercermin dalam perkataan dan tindakan. Jangan malah disandingkan dengan hawa nafsu. Yang perlu kita ingat, manajemen nafsu inilah yang bisa menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat atau lebih hina daripada binatang.

Obyek dakwah kita musti kita cintai, jangan malah dianggap salah, hina, atau bahkan dijauhi dan perlu dimusuhi, sekali lagi jangan. Berdakwalah tanpa harus menunjukkan kesalahan orang lain, berdakwalah seakan-akan orang lain tidak sedang merasa di bawah atau kita yang di atas, berdakwalah kepada siapa pun tanpa harus membuat mereka merasa sedang didakwahi.

Tantangan bagi seorang Da'i tak lain adalah sikap ujub, riya', dan semacamnya. Bom waktu berupa kesinisan atau bahkan kesombongan (terhadap obyek dakwah) yang tersembunyi inilah yang menjadi pangkal dari sebuah egoisme, kekerasan, permusuhan dan bahkan bisa lebih buruk menjadi sebuah tindakan radikalisme.

Berdakwah itu baik, namun alangkah baiknya jika memahami tempat dan kepada siapa kita berdakwah. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Semoga kita senantiasa diberikan nikmat dan rahmat oleh-Nya untuk bisa lebih memahami setiap apa yang didakwahkan kepada kita dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Wallahu'alam bish shawab.

Selasa, 28 November 2017

Mengaji~

Seperti halnya firman Allah SWT yang pertama, kita semua diminta untuk membaca. Membaca dalam konteks ini adalah membaca kehidupan, tak hanya ayat-ayat qauliyah, namun juga ayat-ayat kauniyah-Nya. Jika kita bicara soal mengaji kehidupan, sebelumnya kita pun mesti memahami sepenuhnya bagaimana etika para pencari ilmu kepada siapa/apa saja yang layak dijadikannya guru.

Etika yang pertama dan paling utama adalah ketakdziman terhadap siapapun yang kita anggap dia guru, sami’na wa ato’na. Kalimat ini menegaskan kekosongan diri untuk kemudian siap diisi dengan segala pengetahuan dari sang guru. Seperti yang dikatakan Nabiyullah Khidir AS terhadap Nabiyullah Musa AS, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.". Kita musti bersabar dan istiqomah, serta senantiasa husnudzon kepada setiap ‘alim.

Pada step selanjutnya adalah menentukan kepada siapa kita hendaknya belajar. Seyogyanya kita memang berkhidmat pada seorang guru yang memiliki sanad yang mu’tabar hingga sampai ke Baginda Rasulullah SAW. Namun pada hakikatnya, setiap orang adalah guru bagi orang yang lain. Jagat raya ini terhampar begitu luasnya juga merupakan jabaran dari ayat-ayat kauniyah Allah SWT yang musti kita kaji secara mendalam dan komprehensif. Bukankah Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengadakan perjalanan-perjalanan di muka bumi supaya kita bisa membuktikan ke-Esa-an-Nya? Jika ditarik lebih pendek lagi, cukuplah keterangan Allah SWT yang menjadikan kita khalifah di muka bumi ini sebagai hujjah bahwa kita semestinya pun memahami dimana kita memimpin.

Semakin banyak wajah yang kita temui, maka akan berbanding lurus dengan semakin banyaknya pula hal-hal yang bisa kita gali sekaligus kita kaji. Mengaji bukan melulu di majelis-majelis atau pun di pesantren-pesantren, walau tak bisa dipungkiri bahwa keduanya (atau ditambah dengan bentuk lembaga pendidikan lain) merupakan garda terdepan dalam peranan pembentukan insan yang berkarakter dan berakhlak mulia yang berdasar sekaligus bersandar pada syariat-syariat religiusitas. Menyadur dari kalimat indah Mbah Yai Mustofa Bisri Rembang, yang mana pada intinya menegaskan bahwa definisi seorang santri tidak hanya terkompresi pada mereka yang hanya mengenyam pendidikan di pondok pesantren, namun seseorang juga bisa disebut santri jika memang akhlaknya merepresentasikan akhlak seorang santri.

Dari sini penekanannya adalah output berupa akhlakul karimah, tentu tanpa menafikkan sebuah proses yang panjang dan penuh pengorbanan ketika berusaha meraihnya. Bicara soal pengorbanan, bentuknya pun bermacam-macam, dan setiap orang memiliki kisahnya tersendiri, semuanya bermuara pada yang namanya uswatun hasanah, menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakat atau komunitasnya masing-masing tempat ia hidup dan mengabdi. Mengaji bukan melulu soal bertindak, terkadang mengaji pun cukup dengan diam, namun yang membedakan antara diamnya seorang pencari ilmu dengan diam pada umunya adalah kita diam dalam rangka menyelami tindak tanduk sang guru dan merenungi hikmah dari setiap ucapan dan juga perbuatannya. Bayangkan, betapa indah Allah SWT melukiskan hubungan guru dan murid tersebut pada Surat Al Kahfi 60-82.

Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Mengetahui, Maha Benar Allah SWT dengan segala firman dan ayat-ayatnya. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Selasa, 16 Mei 2017

Berdiri

Mega di Pawitra
Tidak terasa matahari sudah tinggi, enak-enak nyruput kopi, si Atun rewel lagi. "Aku takut turun Mas, pasti oleng dan jatuh".

Masrun senyum sambil nggremeng,"kok ya tega nyalahin motoriknya, wong kalau jalan ya normal-normal saja".
"Gremeng apa Mas?" Tanyaku.

"He kalian pernah dengar nama Bang Zulkarnain dan Sabar Gorky?!".
Aku ingat siapa mereka ini, orang buntung tangan dan kaki yang jadi pemanjat dan pendaki. Pengetahuan Masrun sudah tak di ragukan lagi, mungkin gegara doyan baca sejak dini. Maulid memanggilku, minta tolong fotoin dirinya di spot agak jauh dari tenda. "Lib, aku kok was-was juga ya turunnya" curhat Maulid.

Aku jawab,"Kamu pasti bisa".

"Tadi katamu, dulu jalannya berliku?" Bantah maulid.
Tholib & Maulid berdiskusi
di sela-sela turunan
"Lhah, tadi kan udah tak kasih tahu. Dan ternyata tim ekspedisi sejarah Ubaya sudah nemu sejarahnya. Aku tahunya juga baru saja. Mungkin Pawitra sendiri yang membakarnya, biar kita tahu ada jalur kuno disitu."

"Jangan bilang bumi yang ngasih tahu", Maulid nyeletuk. Masrun dan aku guya guyu.

Masrun yang sedari tadi menyimak angkat bicara juga,"Ingat waktu Kelud mbledug? Itu terjadi ketika Bupati Blitar dan Kediri rebutan wilayah Kelud".
"Maksudmu, kelud gak terima keindahannya di buat sengketa?" Aku merespon Masrun.
"Bisa saja, lha wong itu kediri sampai jogja terkena bencana, tapi Mblitar pas di bawahnya tenang-tenang saja". Jawab Masrun.

"Aku jadi korbannya Mas!, tapi kok bisa ya, mungkin angin kencang dari selatan yg membelokkannya".
"Atau sungkan, mau jatuh di atas makam para raja Nusantara" jawab Masrun.
"Utak atik gatuk Mas, tapi memang sih, ada makamnya Raden Wijaya, dan makam Soekarno juga disana."

Batinku, tadi bicara jalurnya Pawitra malah sampai ke makam raja. "Pantes Mas, orang dulu kuat dan sakti, Beribadah saja harus ngoyo setengah mati".

"Lalu tempat apa yg bakal didatangi setengah mati oleh orang taat, kuat, dan sakti?" Masrun menimpali.

Dari kiri: Tholib, Maulid, & Atun
ndoprok mengatur nafas
Maulid mencoba urun opini,"Tempat suci? Semedi? Biar dekat Sang Hyang Widi?"

"Ya itu kenapa Allah mengutus para wali, mengedukasi, kalau Tuhan itu ada di seluruh bumi bahkan di dalam hati dan lebih dekat dari urat nadi, tidak hanya tempat tinggi apalagi matahari. Pinjem korek Lib". Masrun wajahnya serius santai seperti biasa, sambil ndoprok kami bertiga lanjut bicara.
"Gini, intinya Pawitra itu sama halnya dengan Argodumilah dan Argopuro. Puncaknya dipakai orang untuk bertapa, toh sampai sekarang buktinya. Mungkin mereka lah yang tahu penjaga jawa dan rahasianya".

Jumat, 12 Mei 2017

Mungkin

Maulid menyendiri di dalam tenda
Maulid menyendiri, aku panggil dia,"Dek Maul (ma-ul), jangan hapean terus di tenda!". Sontak dia menolehku dan kubalas dengan gestur wajah dan mata menunjuk ke Atun.

Atun yg sedari tadi ngomel gak karuan, gara-gara lihat Masrun mlungker menggigil kedinginan. "Minum antangin lo Mas!, ini pake koyok!, tak bikinin teh panas ta?! Apa pakai jaketnya si Maul mas?! Di double in lo Mas". Aku ketawa lihat ekspresinya, tapi Atun makin girang ngomelnya. Ya mungkin itu cara tuhan menghangatkan badannya.

Atun yang ekspresif
Mendengar omelan Atun, jadi ingat ustadzah saya dulu pas masih ngaji, namanya Doktor Harini. Beliau menjabat KaDept di sebuah instansi, dan kebetulan juga pengurus HTI, yang jauh lebih tua dari ustadz Siauwmy. Seharusnya hanya konsultan skripsi, tapi malah jerawat, baju, hobi, dan asupan gizi yang dibenahi. Mungkin itu cara tuhan mewakilkannya kepadaku sosok Umi. Salam rindu ya ustadi...

Sembari ngudeg kopi tubruk, aku ganti bilang ke Atun,"Tun, biarkan saja Masrun tidur. Mungkin memang yang dicari hawa dinginnya". Atun menjawab nada melas kasian,"Gak tega Lib, kan kasian, lihat Masrun gemeteran".
Kenampakan geografis
Gunung Penanggungan 

Maulid nyeletuk nimpali Atun,"Masrun itu sudah jaketan, pakaiannya kering, beralas matras dan di dalam tenda. Minimal sudah anget, kalau masih menggigil kedinginan ya normal saja. Itu kan proses alami tubuh manusia. Lha kalau di surabaya? Mau orang-orang jaketan, pasang AC belasan, sampek Budhe Risma nandur pohon di jalan-jalan tetap saja sumuk kepanasan". Aku nambahi,"Ketebalan lemak juga pengaruh hahaha, ya wes nih kopi tubruk buat anget"an."

"Rame ae lur", masrun kebangun. Mungkin itu cara Tuhan membangunkannya, dengan berisik obrolan kami dan aroma kopi.

Selesai bercengkrama, aku melihat dari ketinggian deretan tenda-tenda. Aku langsung ingat, jika cermat dilihat, antara pos 1 sampai 4, geografis tanahnya bertingkat rapat. Pohonnya juga berjajar rapi dekat-dekat. Mungkin dulu pernah ada yang ngerumat, atau gunung sendiri yang membuat? Ah masak bumi itu hidup dan menjalankan syariat?!.
Dari kiri: Atun, Maulid & Tholib
Bersiap untuk turun dari Puncak Pawitra
(Dijepret oleh Masrun yang baru bangun tidur)

Memang, aku pernah mendengar sebuah kisah. Ketika perang Uhud, Rasulullah saw dan pasukan pemanahnya yang teledor, kalah. Melihat Rasulullah saw bersimbah darah. Para malaikat marah dan Bumi ikut bersumpah,"Jika menetes satu titik darah Rasulullah saw jatuh ke tanah. Akan kubalikkan gunung-gunung dan aku hantamkan ke pasukan kafir hingga luluh lantah". Rasullulah saw memohon merendah, mendoakan si kafir segera mendapat hidayah. Mungkin itu yg dimaksud bisyafaati Rasulillah.


-Ditulis oleh Tholib-

Pengikut